fbpx

20 Judul Studio Ghibli Films Paling Berkesan dan Menyentuh

Siapa sih yang tidak mengenal karya animasi jepang studio Ghibli? Kalau Anda tidak familiar setidaknya pasti pernah mendengar karakter Totoro, yang berbentuk kucing raksasa, bukan? Nah itulah logo untuk semua produksi Studio Ghibli Films. Karakter itu berasal dari film populer My Neighbor Totoro. Sudah puluhan animasi yang diproduksi oleh studio ini yang kecenderungan memuat tema-tema realisme magis, kisah-kisah klasik jepang, dan tentunya para hero dominan perempuan!

Studio ini didirikan Hayao Miyazaki, Isao Takahata, dan Toshio Suzuki pada 15 Juni 1985. Ketiga serangkai ini sangat aktif memproduksi karya studio ghibli film dengan formasi penulis dan sutradara adalah Miyazaki dan Isao sementara Toshio condong berperan sebagai produser. Namun baru-baru ini Ghibli kehilangan Isao, yang wafat akibat sakit.

Saking kerennya ada salah satu karya mereka berhasil membawa pulang piala Academy Awards loh! Bahkan film box office Jepang dua tahun silam Kimi no Nawa (Your Name) tidak masuk dalam nominasi. Keren banget kan?

Berikut ini Naiklevel akan mendata daftar judul film Studio Ghibli paling berkesan dan menyentuh yang tidak boleh Anda lewatkan.

Simak di bawah ini!

Grave of the Fireflies (1988)

Judul pertama Studio Ghibli Films yang kami bahas ini adalah karya teranyar almarhum Isao Takahata. Menceritakan perjalanan kakak-adik di tengah-tengah perang dunia ke dua. Seita dan Setsuko, dua bocah itu harus bertahan hidup di saat keterpurukan dan kemiskinan melanda mereka. Dari menumpang hidup hingga tidur di gubuk sempit. Animasi ini memiliki spirit Anti-Perang, banyak kritik sosial yang diberikan melalui ceritanya. Konflik dan perseteruan tidak ada habisnya dan yang menjadi korban paling besar adalah warga biasa. Pokoknya sangat tidak mungkin jika air mata Anda tidak mengalir menyaksikan kisah hidup dua bocah ini yang mati-matian ingin hidup namun terserang wabah penyakit kulit dan belum lagi malnutrisi. Apakah mereka mampu bertahan hidup?

My Neighbor Totoro (1988)

Rasanya tidak mungkin menaruh salah satu karya Studio Ghibli Films teranyar ini di urutan terakhir. Kenapa? Bayangkan saja Anda harus menyaksikan kerinduan Satsuki dan Mei kepada ibunya (Yasuko Kusakabe) yang tengah sakit keras. Di tengah mala rindu tersebut, mereka berdua mendadak di sebuah hutan misterius menemukan makhluk ajaib berbentuk kucing raksasa bernama Totoro. Mulailah petualangan mereka bersama Totoro. Mungkin saja ini hanya sebuah imaji-imaji anak kecil tapi lebih daripada ada suatu pilu yang harus diterima oleh keluarga Kusakabe.

Spirited Away (2001)

Ini dia karya Studio Ghibli Films yang meraih Oscar dan bisa dikatakan adalah film paling luar biasa yang akan pernah Anda tonton dan nikmati. Menceritakan Chihiro, gadis cilik berumur 10 tahun yang terjebak di dalam dunia roh setelah kedua orang tuanya mendadak berubah menjadi babi. Ia kemudian harus berusaha keluar dari dunia roh tersebut atau ia akan melupakan dirinya, keluarganya dan dunianya untuk selama-lamanya. Di tengah perseteruannya dengan Yubaba, penyihir jahat, ia menjalin persahabatan dengan Haku, yang kehilangan ingatan dan jati dirinya. Siapakah Haku sebenarnya? Ini hanya satu misteri kecil yang akan membuat Anda penasaran. Spirited Away adalah film animasi yang sebenarnya tidak untuk anak-anak melainkan dewasa karena ceritanya yang multi layer dan sangat gelap. Penasaran?

Howl’s Moving Castle (2004)

Seorang penyihir jahat mengutuk Sofî, remaja perempuan menjadi seorang manula. Satu-satunya jalan bagi Sofî untuk kembali ke wujudnya semula adalah menemukan Howl, penyihir muda yang tinggal di kastil yang kerap berpindah-pindah ruang dan waktu. Namun Howl ternyata adalah pria yang arogan dan menjengkelkan. Dibantu dengan setan api bernama Calcifer, mereka berusaha menghancurkan kutukan itu. Sayangnya Sofî dilanda oleh dilema karena membantu Calcifer ada risikonya dan itu berhubungan dengan nyawa seseorang. Howl’s Moving Castle adalah film animasi yang bertemakan sahabat, cinta dan menemukan apa arti kehidupan. Setiap karakter memiliki penderitaannya masing-masing. Dibalik megahnya animasi, kayaknya warna, dan cerita yang begitu mendalam Anda akan belajar banyak hal dari salah satu film emas Miyazaki ini.

Princess Mononoke (1997)

Kalau Anda seorang animal lover dan pecinta alam maka film animasi satu ini wajib banget masuk dalam daftar tontonan Anda. Kenapa? Karena tema besar Princess Mononoke adalah masalah deforestasi (penggundulan hutan) yang dilakukan oleh manusia-manusia rakus. Suatu ketika sembari melindungi desanya dari serangan iblis berbentuk babi Ashitaka terkena kutukan mematikan. Untuk menyelamatkan dirinya ia harus menjelajahi ke selatan hutan. Di sana ia melihat bagaimana para iblis menyerang manusia, dan juga mendapati bagaimana hutan telah dirusak. Di saat itu juga ia berpapasan dengan Mononoke, seorang perempuan yang dibesarkan oleh dewa menyerupai serigala. Bersama mereka berusaha untuk menyelamatkan para mahluk-mahluk suci di hutan.

Nah, berbeda dengan Studio Ghibli Films lainnya, Princess Mononoke adalah film yang terbilang brutal dan benar-benar dewasa. Bayangkan banyak adegan-adegan gore, seperti bagian tubuh manusia terputus dan ditampilkan secara implisit.

Ponyo (2008)

Finally ada karya dari Studio Ghibli Films yang bisa termasuk kategori cheesy dan ringan. Ponyo menceritakan tentang Sosuke, bocah laki-laki yang tinggal di pesisir laut bersama Ibunya, Lisa. Suatu ketika ia menemukan goldfish (ikan mas) yang kemudian diberikan nama Ponyo. Ternyata ikan mas itu adalah anak dari dewa laut. Ponyo yang tertarik kepada Sosuke menggunakan sihir ayahnya untuk menjadi manusia juga. Lantas Ponyo dan Sosuke kemudian memasuki masa-masa lugu anak kecil bersama dan belajar arti penting lingkungan. Yup, bukan Ghibli namanya kalau tidak selalu menggunakan isu-isu sentral lingkungan.

The Secret World of Arrietty (2010)

Studio Ghibli Films kali ini sangat cocok bagi Anda yang suka dengan film-film bertemakan persahabatan dan perbedaan. Menceritakan Shō dan Arrietty yang menjalin persahabatan namun berasal dari dunia begitu berbeda. Konflik terletak ketika Arrietty terpisah dari keluarganya, dan kemudian Shō berusaha membantunya. Sayangnya, Arrietty belum percaya kepadanya dan di sini lah pelan-pelan mereka menjalin persahabatan. Tapi ini bukan film cinta! Bahkan sangat miris ketika Arrietty mengetahui bahwa Shō mengalami masalah jantung dan akan menghadapi operasi dengan kemungkinan berhasil sangat kecil. Bagaimana akhir kisah mereka berdua? Tonton saja The Secret World of Arrietty.

Kiki’s Delivery Service (1989)

Salah satu karya klasik dari Studio Ghibli Films ini mengisahkan Kiki, penyihir muda yang tengah menjalani tradisi penyihir ditemani Jiji, animal spirit-nya yang berupa kucing hitam. Meskipun terkesan sederhana nyatanya Kiki’s Delivery Service dipenuhi cerita yang kompleks tentang coming-age yaitu peralihan anak-anak menjadi dewasa. Kiki harus merelakan banyak hal dan di saat bersamaan ia juga mesti menerima dirinya sebagai perempuan dewasa.

Only Yesterday (1991)

Berbeda dari kebanyakan Studio Ghibli Films lainnya yang cenderung fantasi Only Yesterday adalah film yang realisme dan drama. Karya Toshio ini menceritakan kehidupan Taeko Okajima, yang terbagi atas dua periode: masa kanak-kanaknya dan ketika ia sudah menjadi perempuan dewasa yang tengah berlibur di suatu desa. Bisa dibilang film ini sangat sensitif dan bisa jadi refleksi diri bagi kita atas menghadapi kehidupan saat ini. Namun Anda harus cukup sabar menontonnya karena Only Yesterday sangat lambat sekali alur ceritanya. Tapi film ini pasti relate banget dengan Anda karena tokohnya yang sangat membumi dan ‘ordinary’ –– yang membuat kita cepat masuk ke dalam ceritanya.

When Marnie Was There (2014)

Siapakah Marnie? Sepanjang film Anda pasti akan bertanya-tanya tentang karakter yang muncul tiba-tiba dan misterius. Film ini menceritakan tentang sosok Anna, remaja perempuan yang dirundung sepi dan tengah menghadapi depresi. Ia benci kepada orang tua kandungnya yang meninggalkannya hingga sulit menerima cinta dan kasih dari kedua angkatnya. Di tengah-tengah kesendiriannya itulah ia bertemu Marnie dan bersama mereka menyelami lika-liku kehidupan manusia. Pokoknya emosi Anda akan diaduk-aduk! When Marnie Was There juga sangat ikonik karena karya Studio Ghibli Films ini rilis saat Hayao Miyazaki mengumumkan dirinya pensiun membuat animasi.

Pom Poko (1994)

Pom Poko memiliki tema cerita yang sama dengan Princess Mononoke yaitu ketika lingkungan digerogoti oleh manusia yang rakus. Perbedaannya adalah kali ini karakter utamanya adalah para rakun yang bisa mentransformasikan dirinya menjadi apapun. Sayangnya tidak semua rakun lihai melakukan ini yang membuat banyak momen kocak selama menonton Pom Poko. Pada akhirnya, karya Studio Ghibli Films ini mengkritisi ekspansi lahan besar-besaran untuk permukiman dan industri yang terjadi di Jepang lalu merugikan satwa dan juga lingkungan.

The Wind Rises (2014)

The Wind Rises adalah film animasi panjang terakhir dan sekaligus sebagai penutup dari karya Hayao Miyazaki. Menceritakan tentang Jiro Horikoshi, bocah yang bermimpi menjadi pilot tapi sayangnya ia mengalami masalah penglihatan. Namun, ia kemudian bercita-cita untuk menjadi seorang desainer pesawat terbang. Berbeda dari kebanyakan film Miyazaki lainnya, The Wind Rises adalah karyanya yang paling realisme tanpa sentuhan-sentuhan fantasi. Film ini fokus bahwa jika kita serius meraih cita-cita selalu ada jalan untuk menggapainya dan terkadang ada berbagai kejutan yang menanti selama perjalanan hidup Anda!

Laputa: Castle in the Sky (1986)

Mendebarkan! Brilian! Adalah dua kata yang pantas disematkan kepada Castle in the SKy, yang merupakan karya klasik Studio Ghibli Film dan Hayao Miyazaki. Menceritakan Pazu yang menemukan perempuan misterius bernama Sheeta yang jatuh dari langit. Ternyata Sheeta tengah dikejar oleh pembajak dan serdadu jahat perkaranya Sheeta menyimpan kristal misterius yang memiliki kekuatan/teknologi ajaib. Laputa: Castle in the Sky mengkritisi ketamakan manusia atas sesuatu yang material. Alkisah, ada suatu peradaban hilang yang berisikan harta karun dan untuk mendapatkan itu semua mereka rela membinasakan segala makhluk hidup di pulau melayang Laputa.

From Up on Poppy Hill (2011)

Studio Ghibli Films sekali lagi berhasil menangkap momen cantik dengan lagu-lagu yang indah melalui From Up on Poppy Hills. Menceritakan para remaja Yokohama yang berusaha mempertahankan bangunan yang mereka pakai untuk kegiatan klub di tengah-tengah persiapan Olimpiade Tokyo 1964. Bisa dibilang film ini menjadi tebusan dosa Goro Miyazaki yang dinilai kritikus gagal dalam film Tales from Earthsea garapannya.

Porco Rosso (1992)

I’d much rather be a pig than a fascist!” –– kutipan tersebut sangat ikonik dalam Porco Rosso yang merupakan karya Studio Ghibli Films bertemakan anti perang. Menceritakan Porco Rosso yang berubah menjadi babi setelah peristiwa Perang Dunia 1. Alih-alih menjadi tokoh mengerikan ternyata Porco Rosso malah menjadi sosok hero karena kerjanya menyelamatkan para korban yang disekap oleh para perompak angkasa. Karena menaruh dendam akhirnya para perompak ini membentuk persekutuan dan menyewa Donald Curtis untuk mengalahkan Porco Rosso. Bisa dikatakan ini adalah film paling “aneh” dan “nyeleneh” tapi Anda pasti akan masuk ke dalam jalan ceritanya dan diam-diam berharap bisa bersantai di Pulau kecil privat selayaknya Porco Rosso.

The Tale of the Princess Kaguya (2013)

Sesuai dengan judulnya tentu saja film ini terinspirasi dari cerita Princess Kaguya yang mengisahkan seorang pria tua menemukan pohon bambu ajaib dan menemukan sosok putri berukuran kecil di dalamnya. Dan sebagaimana kita ketahui bersama akhirnya si pria dan sang istri merawat anak itu. Lantas apa istimewanya karya Studio Ghibli Films ini? Pertama adalah visual dan gambarnya yang beda dari yang lain. The Tale of the Princess Kaguya memiliki corak selayaknya lukisan cat air yang indah dan menakjubkan. Kedua adalah musiknya yang menjadi latar film akan mencampur adukkan emosi penonton. Namun memang film ini tidak cocok untuk semua orang karena durasi yang sangat panjang 137 menit dan juga tensi cerita yang datar bisa membuat kantuk dan lelah. Tapi buat Anda yang mencintai visual maka ini film yang tepat untuk memanjakan mata.

My Neighbors the Yamadas (1999)

Diadaptasi dari manga Nono-chan, film ini adalah salah satu karya Studio Ghibli Films yang memiliki visual unik dan juga cerita ringan. Film ini dibuat oleh Isao Takahata (yang tampaknya memang suka bereksperimen dengan visual sebagaimana The Tale of the Princess Kaguya). Film ini mengisahkan dinamika kehidupan keluarga Yamada yang dibalut dengan humor jenaka. Jauh dari kesan serius dan nasihat-nasihat moral. Tapi My Neighbors the Yamadas akan cepat relate dengan hidup Anda sehari-hari karena toh ceritanya memang tentang kehidupan sehari-hari manusia yang dipenuhi gelak tawa.

Whisper of the Earth (1995)

Heartwarming” adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan karya Studio Ghibli Films ini, yaitu Whisper of the Earth. Film ini sangat membumi banget karena menawarkan keindahan dan kedetailan lanskap kota Tokyo yang romantis dan melankolis. Berkisah tentang seorang anak perempuan, Shizuku Tsukushima yang penasaran dengan pemilik nama Seiji Amasawa karena setiap buku yang dipinjam selalu dipinjam sebelumnya oleh si pemilik nama tersebut. Apakah akhirnya Shizuku menemukan sosok yang ia cari?

The Red Turtle (2016)

Seorang pria terdampar di suatu pulau dan di tengah rasa frustasinya ia melakukan hal yang disesalinya kepada seekor penyu. Inilah garis besar konflik dari The Red Turtle, yang merupakan kerja sama Studio Ghibli Films dengan sineas Michael Dudok de Wit. Ini adalah film ghibli yang gak ghibli banget karena animasinya kental dengan nuansa eropa tapi cerita surreal dan fantasinya tak bisa dibohongi. Meskipun memang terkesan biasa dan mungkin akan membosankan karena bahasa visual lah yang dipakai dalam The Red Turtle tapi jika bersabar kita akan memasuki dunia yang kompleks dan ajaib.

Nausicaä of the Valley of the Wind (1984)

Nausicaä of the Valley of the Wind adalah film yang menjadi tonggak awal berdirinya Studio Ghibli Films meskipun dirilis ketika studio ini belum resmi berdiri. Namun karena ini merupakan karya Hayao Miyazaki dan akhirnya “dianggap” lah sebagai film klasik awal Ghibli oleh fans. Film ini berlatar waktu post-apocalypse dimana dunia sudah hancur lebur dan hanya tersisa padang pasir saja. Hutan-hutan telah sirna, dan hewan-hewan menjadi buas berbahaya. Tapi ini tidak menghentikan Puteri Nausicaä untuk mengeksplorasi wilayah berbahaya. Konfliknya adalah ketika manusia ingin menghancurkan hutan terlarang yang menjadi tempat tinggal para hewan berbahaya. Nausicaä berusaha menghentikan bencana itu meskipun mesti mempertaruhkan nyawanya! Tidak mengejutkan memang ketika film-film Ghibli selanjutnya setipikal dengan Nausicaä of the Valley of the Wind dimana heronya adalah perempuan dan tema-tema sentral terkait lingkungan.

***

Itulah 20 daftar judul Studio Ghibli Films yang tidak boleh Anda lewatkan! Apa yang menjadi favorit Anda? Bagikan di kolom komentar.

More Stories
FIFA 19 Survival
FIFA 19: House Rules Hadirkan Mode Survival, dan Mode Konyol Lainnya